Selamat Datang Bro and Sis WWW.JITUPOKER.COM

Tuesday, June 30, 2015

Cerita Dewasa Kisah Pemerkosaan Cewek Amoy

Kuakui perbuatanku memang sadis terhadap gadis chinese bernama Mei Ling. Tubuhnya yang seksi membuat nafsu birahiku tak tertahankan sehingga aku tega memperkosanya, kisah ini aku ceritakan di cerita seks ini.

Perkenalkan, namaku Andi. Aku kuliah di sebuah PTN terkenal di kotaku. Aku mempunyai tetangga perempuan yang masih bersekolah di SMU, namanya Mei Ling. Mei Ling adalah gadis keturunan Chinese. Ia mempunyai wajah yang manis, dan mata yang sipit terlihat indah dibalik kacamatnya. Kulitnya putih bersih, dengan bulu-bulu halus menghias lengannya.

Sebenarnya aku sudah lama tertarik sama dia, karena tubuhnya yang menggairahkan sekali. Dia suka mengenakan kaos ketat dengan warna cerah. ketika kami bertemu, aku suka curi pandang lengan atasnya yang putih bersih dan ketiaknya yang gemuk dengan beberapa rambut tipis di tengahnya. Mei Ling bertubuh agak pendek, sekitar 158 cm dan menggairahkan. Yang paling menonjol Mei Ling tubuhnya yaitu payudaranya yang cukup montok ukurannya sekitar 34B dan pantatnya yang padat berisi. Ketika kami mengobrol dijalan aku sering memperhatikan orang-orang yang melewati kami, mereka selalu melirik ke arah payudara Mei Ling dan pantatnya yang semontok pantat Nafa Urbach, berharap bisa meremas-remasnya.

Setiap hari Mei Ling pulang sekitar jam 5 sore, karena ia kut les setelah pulang sekolah. Aku sedang dirumah, Mei Ling main kerumahku setelah ia pulang dari les. Dan setiap kali Mei Ling mengobrol selalu kugoda dan kuajak kekamarku. Namun sutau hari, karena aku dengan alasan ingin memeperlihatkan sesuatu, Mei Ling mau juga. Dan kebetulan rumahku sedang tidak ada orang, karena mereka sedang keluar kota. Dikamarku, kutunjukkan novel terbaru "Harry Potter & The Chamber?s of Secret", karangan J. K. Rowling. Mei Ling selalu menanti-nanti terbitnya Novel tersebut.

Kira-kira waktu itu sekitar jam setengah delapan malam. Ketika aku bermain game di computer, Mei Ling sedang asyik membaca buku di lantai dan membelakangiku. Ketika aku menengok kebelakang, terlihatlah pantatnya yang terbalut celana panjang. Menantang kejantananku untuk disarangkan ke dalam bongkahan pantatnya yang montok itu. Gadis itu tidak sadar kalau pantatnya sedang ku perhatikan. Rupanya memang tidak sadar kalau sedang kuperhatikan.

Baru beberapa menit kemudian Mei Ling membalikkan badannya, aku segera mengalihkan pandanganku ke computer. Mei Ling lalu melihat sebentar game yang sedang kumainkan, lalu ia kembali membaca lagi di lantai tepat disamping bawah kursiku. Ketika kulihat ia kembali, sungguh pemandangan yang sangat membuat keringat dinginku keluar. Kulihat payudaranya yang terbungkus bra di balik kaosnya yang rada longgar karena ukurannya yang cukup besar. Terlihat jelas sekali dari atas, bagian atas kulit payudara Mei Ling yang putih sekali, lebih putih dari kulit lengan dan wajahnya yang sudah sangat putih. Suasana memang sepi disekitar rumahku, namun bagi penduduk sekitar cukup aman untuk dihuni.

Ketika nafsuku sudah tak tertahankan lagi. Kurangkul tubuh Mei Ling, dan kubekap mulutnya.
"Eegghh, mmpphh.. mmphh", Mei Ling berusaha berteriak.
Kulumat bibirnya agar ia tidak bersuara. Sambil tanganku mengambil tali pramuka di dekatku. Lalu kuikat kedua lengannya ke belakang. Beberapa menit kemudian, rontaan Mei Ling mulai melemah.
"Ndi. apa yang kamu lakukan".
Mei Ling berteriak begitu mulutnya berhasil lepas dari mulutku.

Dengan cepat, kulumat lagi mulut Mei Ling. Kuhisap-hisap mulut dan lidahnya. kujelajahi rongga mulutnya dengan lidahku. Air liur Mei Ling yang kuhisap, meluber keluar membasahi pipi dan sekitar bibirnya yang mungil merah merekah. Kuteguk nikmat air liur cewek Chinese itu. Belum sempat ia bersuara ketika kulepas bibirku di bibirnya, ku masukkan batang kontolku ke dalam mulutnya. Sambil kujambak rambutnya dan kumaju-mundurkan kepalanya.

"Ouuhh, mm.", aku melenguh keenakan, di penisku.
Aku merasakan penisku basah, dan dingin di dalam mulut Mei Ling. lalu kubopong gadis itu ke atas tempat tidurku. Setelah mengunci pintu. Aku kembali ke tempat tidurku yang cukup besar. Kutelepon Irfan, temanku untuk membantu menyetubuhi si Mei Ling. Tak lama kemudian, temanku Irfan. Mereka senang sekali kuajak.

Setelah kuikat kedua lengan Mei Ling ke masing-masing sudut ranjang, sedangkan kedua kakinya dipegangi kedua Irfan. Kulepaskan satu persatu pakaian Mei Ling, hingga akhirnya Mei Ling hanya memakai Celana Dalam putih dan BH kremnya. Payudaranya menyembul di bagian atas BH-nya. Kulit payudara Mei Ling putih sekali, kontras dengan warna BH-nya. Melihat keadaan tubuh gadis itu, nafsuku menjadi naik. Kontolku menegang, tapi aku masih bisa menahan diri. Tapi tanganku mulai meraba-raba seluruh bagian tubuh gadis itu. Pahanya yang putih mulus sekali, terasa lembut sat ku elus-elus, dan empuk saat kuremas-remas sambil kujilati hingga pahanya basah oleh air liurku.

Setelah melakukan semua itu, Aku melepaskan semua pakaianku hingga telanjang bulat
dengan kondisi kontolku yang udah tegang. Tanpa membuang waktu kudekati Mei Ling yang masih memohon agar dilepaskan. Mei Ling berusaha memberontak Tapi dengan cepat kedekap tubuh gadis itu, dekapanku cukup kuat, Mei Ling hanya bisa terisak-isak menangis. Gadis itu seakan tak berdaya ketika Aku mulai meremas-remas payudaranya yang lumayan besar dan kenyal itu dengan masih dibungkus BH-nya. Sambil menikmati musik house, Lama kelamaan aku menjadi tambah bernafsu, dengan kasar kutarik BH gadis itu dan kulemparkan. Di depan mataku terpampang payudara gadis itu yang putih dengan puting mungil merah muda yang indah sekali Aku meremas-remas payudara gadis Chinese itu dengan sekuat tenaga.

"Aakkhh, saakkii..iitt. Ndi, sakkii. it, ampuu..unn. Ndii", Mei Ling meraung-raung kesakitan.
Dadanya menempel erat kedadaku dan akupun merasa ada daging kenyal yang hangat. Aku terus melumat bibirnya, sementara tangan kananku dengan leluasa mengelus-ngelus pahanya yang mulus dan pantatnya yang kenyal. Tangan kiriku meremas-remas payudara kirinya. Kudengar lenguhan-lenguhan kenikmatan dari Mei Ling. Aku lepaskan mulutku dan kuciumi lehernya hingga ke payudaranya, kusedot susunya yang kiri sementara tangan kananku meremas-remas yang kanan. Kutindihi tubuhnya sambil menyedot-nyedot susunya secara bergantian. Saya jilati kedua payudaranya sambil saya gigit dengan keras putingnya yang merah itu.
"Uufh, sakii..iit, oufhh, ohh, oohh saki..iit, ohh".
Mei Ling merintih sambil menangis sesenggukan. Sementara itu aku terusin permainan lidah aku ke arah perutnya yang rata itu, aku berhenti di bagian pusar dan konsentrasi di bagian itu sambil ngeremes bokongnya yang padat, kedua tanganku selipin ke bokongnya dan pelan-pelan aku lucuti celana dalamnya ke bawah.

Tampaklah sebuah pemandangan yang luar biasa indahnya di balik CD nya dan kurasakan rambut hitam yang masih jarang mengelilingi vaginanya. kuraih klitorisnya dan ku gosok-gosok dengan jari tengahku.
"Oohh, jangaann, sudaahh oufhh, jaa, ngaa, an, oohh".
Dia merintih merasakan nikmat yang dalam karena klitorisnya kugosok sementara lidahku tetap bermain menyedot-nyedot payudaranya yang besar bulat kencang itu, seakan-akan menantang ke arahku. Kupegangi bagian bawah payudara Mei Ling, mulutku menciumi dan mengisap-isap kedua puting susu Mei Ling secara bergantian. Buah dada Mei Ling yang sebelah kanan menjadi sasaran mulutku. Buah dada Mei Ling yang membusung padat itu hampir masuk semuanya ke dalam mulutku dan mulai kusedot-sedot dengan lahap.

"Ssshh, sshh, aahh, aahh, sshh, sshh, jangaann, suudaahh.. aku mohoonnn".
Mei Ling terus mengerang. mulutku terus berpindah-pindah dari buah dada yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan menjilat-jilat kedua puting buah dada Mei Ling secara bergantian selama kurang lebih lima belas menit. Tubuh Mei Ling benar-benar telah lemas menerima perlakuanku ini. Matanya terpejam pasrah dan kedua buah dada dan putingnya telah benar-benar mengeras. Aku mulai maraba bulu-bulu halus yang tumbuh lebat di vagina Mei Ling. Ia mulai merintih lagi menahan rangsangan pada vaginanya.

Irfan tidak tahan dengan pemandangan indah itu. Ia lalu memegang kepala Mei Ling, kemudian melumat bibirnya yang tipis dengan bulu-bulu halus di antara bibir dan hidungnya. Mulut irfan mulai menjilati leher Mei Ling, lalu turun ke dadanya. Terasa oleh Mei Ling mulut Irfan menghisapi puting susunya pertama yang kiri lalu sekarang pindah ke kanan. Kemudian Mei Ling menjerit ketika Irfan mengigit puting susunya sambil menariknya dengan giginya.
"Diem, Jangan berisik", Irfan menampar pipi kiri Mei Ling dengan keras, hingga berkunang-kunang.
Mei Ling hanya bisa menangis sesenggukan.
"Gue bilang diem. dasar", sembari berkata itu si Gondrong menampar buah dada Mei Ling, sampai sebuah cap tangan berwarna merah terbentuk di payudara kiri Mei Ling.

Lalu Irfan melepas celana jeansnya dan kemudian Cdnya. Irfan menduduki kedua susu Mei Ling. Lalu ia mencoba membuka mulut Mei Ling, dan mengarahkan kontolnya dan menggesek-gesekkan kepala penisnya di bibir Mei Ling. Lalu ia menampar-nampar kedua pipi Mei Ling sampai memerah. Tanpa mendapat perlawanan yang berarti dari Mei Ling, kepala penis Irfan telah terjepit di antara kedua bibir mungil Mei Ling, Akhirnya Mulut Mei Ling terbuka, dengan memaksa, Irfan menarik kepalaMei Ling akhirnya penisnya masuk juga kedalam mulut Mei Ling. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Mei Ling yang kecil, itupun sudah terasa penuh benar.

Mei Ling hampir sesak nafas dibuatnya. Mei Ling dipaksa menjilat dan menyedoti penis Irfan, jika menolak Irfan akan terus menampar pipi Mei Ling. Karena tidak tahan Mei Ling mulai menjilati penis Irfan.
Dia langsung mendesah pelan"Aakkhh, aakkhh.", sambil ikut membantu Mei Ling memaju-mundurkan penis saya di dalam mulutnya.
"Aakk, akk, nikmat sayyaangg".
Kelihatan Mei Ling bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutnya.

Tak lama kemudian penis Irfan menyemburkan spermanya banyak sekali di dalam mulut Mei Ling.
"Ooohh, oouuh", Irfan melenguh panjang, merasakan nikmat berejakulasi di mulut gadis Chinese yang cantik dan putih ini.
Mei Ling terpaksa menenggak seluruh sperma Irfan, sedangkan sisanya meluber keluar membasahi bibir dan dagunya. Mei Ling semakin mendesah-desah karena kemaluannya kujilati dengan buasnya. Apalagi tanganku saat itu tidak lepas meremas-remas payudara gadis itu.

Kubuka lebar pahanya kudekatkan ujung kontolku ke arah selangkangan gadis itu yang masih perawan itu. Kugesek-gesekkan kontolku di sekitar liang memek gadis itu. Mei Ling merasakan adanya sesuatu yang meraba-raba kemaluannya. Tiba-tiba Mei Ling teriak keras sekali. Tapi dengan cepat kedekap tubuh gadis itu. Batang kemaluanku yang besar dan panjang ini aku coba kumasukkan dengan paksa ke liang kemaluan Mei Ling yang masih sangat sempit,

Ketika penisku merobek keperawanannya, ia berteriak kesakitan sambil menangis, dan aku merasakan penisku telah dibasahi oleh darah segar keperawanannya, tapi aku tidak ambil peduli. Dari wajah Mei Ling terlihat dia menahan sakit yang amat sangat.

Sementara itu si Irfan dengan ganasnya beradu lidah dengan Mei Ling sambil tangannya turut bekerja meremas dan memilin-milin puting susunya yang masih kecil. Aku masih asyik memaju-mundurkan pantatku dengan cepat. Aku mengebor memeknya dengan kecepatan tinggi sambil kedua tanganku meremas pahanya yang putih mulus dan pantatnya yang sekal, Tangisan Mei Ling semakin keras meraung-raung. Akhirnya tubuh Mei Ling mengejang sampai bergetar. Air mani Mei Ling mengalir melalui rongga vaginanya mengguyur penisku yang tertanam di dalam vaginanya. Sedangkan aku masih menjilati payudaranya, dia mengalami orgasme hebat beberapa saat sampai akhirnya melemas tangisannya samar-samar menghilang.

Lalu kubalik tubuhku, sehingga posisi tubuh Mei Ling sekarang berada diatasku. Dengan posisi berbaring, kupeluk punggung Mei Ling sambil menaik-turunkan pantatnya sehingga aku merasa semakin nikmat karena pijitan vaginanya. Aku semakin mempercepat gerakan sehingga membuat adegan yang kami lakukan semakin panas karena Mei Ling terus meronta sambil mendesah. Aku terus memompa liang peranakannya dari bawah, sambil kedua tanganku mencengkram dan meremas dengan kasar kedua buah bongkahan pantat Mei Ling yang padat sekali. Tangan Irfan masih memainkan puting susu Mei Ling sambil sesekali menarik-narik payudaranya yang kenyal itu.

Setengah jam terus berlalu dan aku mulai merasakan seolah-olah akan ada ledakan dalam diriku dan Mei Ling. Aku mengetahui bahwa dia akan klimaks lagi karena Mei Ling semakin kuat mendesah, kupercepat menggenjot tubuhnya. Aku semakin tidak tahan dan kusemprotkan cairan kejantananku ke dalam liang kewanitaannya dan di saat yang bersamaan pula, Mei Ling berteriak dengan disertai getaran hebat sambil seluruh tubuhnya mengejang. Penisku terasa seperti sedang di"pipis"in olehnya karena ada cairan yang mulai membasahi penisku. Mei Ling mengalami orgasmenya yang kedua. Setelah 46 menit kami bersama-sama melepaskan nafsu

Lalu Irfan mendekati tubuh Mei Ling, ia menarik pinggul Mei Ling.
"Ampun. sudaahh, jangan terusin, biarkan saya pulang" rengek Mei Ling sambil minta belas kasihan.
"Heh.. diam kamu" hardik Irfan.
"Ayo nungging, aku mau liat memek dan pantat seksi kamu dari belakang".
Irfan mengangkat pinggul Mei Ling sehingga posisi Mei Ling sekarang nungging.
"Hahaha. begitu manis. Waw.. bagus sekali pantat kamu", sambil Irfan mendekatkan mulutnya ke memek Mei Ling.
Dengan jari Irfan menusuk memek Mei Ling yang menggelinjang menahan sesuatu.

Dan Irfan dengan buasnya, menjilatin anus Mei Ling yang berwarna kemerah-merahan. sambil sesekali ujung lidah Irfan dimasukin ke lubang anus cewek chinese itu dan menjilatinya. Tanpa disadari oleh Mei Ling. apa yang akan dilakukan Irfan selanjutnya.
Sekonyong-konyong Mei Ling menjerit"Aauu. aauu. aakhh".
Rupanya penis Irfan telah menembus lubang memek Mei Ling yang sudah basah dipenuhi lendir kenikmatan dan spermaku. Dengan buasnya Irfan menggenjot terus memek Mei Ling dari belakang (doggy style) Mei Ling hanya bisa merasakan sakit di liang kemaluannya karena di sodok2 dengan penis Irfan yang besar dan panjang. Sambil kepala dan payudaranya terayun-ayun karena sodokan penis Irfan, Mei Ling memohon ampun.

"Ampun, sakit sekali, aauu. sudah pak, sakit.. sakiitt".
Mei Ling terus memohon sambil berlinang air mata, mendapat perlakukan kasar dari Irfan. Makin lama Irfan makin keras mendorong-dorong memek Mei Ling, dengan desisan panjang.
"Sstt. sstt. aahh".
Irfan menahan nikmat luar biasa.
"Nich. aku mau keluar. ayo cepet goyangin pantat kamu.. plak.. plak.." sesekali Irfan menampar pantat indah milik Mei Ling, sehingga pantat Mei Ling mulai memerah.
"Aahh. sakiitt, huuhh. aach".
Sambil mendorongkan penisnya, sekali hentak keluar sperma Irfan memenuhi liang vagina Mei Ling.
"Aachh.. ccroott, crrott, gue, semprot. lobang, loe.. bangsatt".
Irfan mengumpat. lalu Irfan menarik penisnya. darah bercampur air mani Irfan dan Mei Ling keluar mengalir membasahi paha Mei Ling yang masih tegak. Lalu Irfan berbaring di samping tubuh Mei Ling yang setengah tidak sadar.

setelah istirahat sejenak nafsu kami mulai naik kembali.
"Fan coba kita main berdua"
Irfan mengambil posisi tidur sedangkan Mei Ling didudukan diatas tubuhnya, sambil penis Irfan diarahkan ke lubang Vagina Mei Ling. Mei Ling dengan mimik muka memohon ampun, Irfan makin tambah beringas. Akhirnya sekali dorongan tembuslah memek Mei Ling yang selama ini dia rawat, sekarang di koyak-koyak oleh Irfan kembali. 2 orang yang sangat kehausan sex.
"Aduuhh.. sakkiitt. sudahh. kumohoonnn" Mei Ling menjerit kesakitan.
Namun Irfan tidak mempedulikan rintihan dari mulut Mei Ling, dia makin kasar menyodok-nyodokan penisnya sementara itu aku telah berdiri di atas mereka berdua, dan mendorongkan tubuh Mei Ling untuk amBLi posisi membungkuk, dan dengan kasar jariku mulai meraba-raba pantat Mei Ling yang montok putih mulus sambil mempermainkan jari tengahku untuk mengobel lubang anus Mei Ling.

"Waw.. Rupanya anusnya masih perawan nih. lobangnya kecil banget" seruku sambil mengarahkan batang penisku ke anus Mei Ling.
Setelah mengolesi handbody pada batang penisku agar tidak lecet, aku berusaha memasukan penisku ke lubang anus Mei Ling.
"Vin pantat loe gue sodomi ya? pantat loe montok banget sih. Pasti jepitannya kenceng nih", Aku berteriak kepadanya sambil meremas pantatnya yang putih sekali.
"Jangan. jangan. ampun. jangan disitu. Ndii. sakiitt. periihh" jerit dan ratapan Mei Ling dengan nada memelas.
Tapi aku tidak mempedulikan rintihan Mei Ling, makin keras aku memasukan batang kemaluan aku. Untuk beberapa saat memang sulit bagi penisku untuk berhasil masuk, karena memang lubangnya sangat sempit.

Namun aku penasaran untuk segera melesakkan batang kemaluanku ke dalam duburnya. Dan akhirnya setelah berusaha membuka pantat Mei Ling, tembuslah lubang anus Mei Ling disodok batang kemaluanku. Rasa sakit tiada tara kembali dirasakan didaerah selangkangannya. Setelah itu pantat Mei Lingpun kusodok-sodok dengan keras, kedua tanganku meraih payudara Mei Ling serta meremas-remasnya. Setengah jam lamnya aku menyodomi Mei Ling, waktu yang lama bagi Mei Ling yang semakin tersiksa itu. Lubang dubur Mei Ling terus menerus mengeluarkan darah melalui sela-sela penisku yang tertanam dipantatnya.

"Eegghh, aakkhh, oohh", dengan mata merem-melek serta tubuh tersodok-sodok dari atas dan bawah, Mei Ling merintih-rintih.
Sementara itu kedua payudaranya diremas-remas oleh kedua tanganku. Sedangkan Irfan dengan asyiknya menyodok-nyodok memek Mei Ling dari bawah. Lengkaplah sudah dua lobang yang berdekatan telah di tembus oleh dua batang penis aku dan Irfan yang haus sex. Mei Ling hanya bisa meringis menahan sakit yang luar biasa karena selama ini ia tidak pernah menahan rasa sakit seperti itu.

"Ndi, ayo kita sudahi permainan ini bareng, loe sodok dari atas, gue sodok dari bawah dan kita koyak memek dan dubur cewek ini, dan kita penuhi dengan pejuh kita", Irfan menyeru.
Beberapa menit kemudian kami berdua mengerang menahan nikmat yang luar bisa, dan hampir bersamaan kami memuncratkan sperma berbarengan.
"Aachh., keluuarr.. hhmm.. sstt. nikmat sekali"
"Ooohh." Mei Ling mengerang merasakan air mani kami membanjiri liang dubur dan vaginanya.
Setelah berhenti sejenak kami akhirnya terkulai, begitu juga Mei Ling yang terhimpit oleh kedua pria yang telah menggaulinya hanya bisa tergolek lemas sambil menangis sesenggukan meratapi nasibnya yang malang.

Kami sempat mengabadikan persetubuhan kami melalui handycam milik Irfan. dan kami berjanji tidak akan menyebarkannya ke internet, asalkan Mei Ling tutup mulut dan bersedia kami setubuhi. Sampai sekarang aku dan irfan masih sering menyetubuhi tubuh Mei Ling. Kami salurkan hasrat sex kami yang besar ini dengan mengoral mulut Mei Ling, menyodomi pantatnya, dan mengebor memeknya. Hingga sekarang kedua payudara Mei Ling semakin besar, karena terlalu sering kami remas-remas dan kami sedoti. Ukuran branya sekarang 38B, dan puting susunya merah melebar. Setelah persetubuhan, kami selalu meminumkan pil anti Hamil ke Mei Ling. Sampai sekarang Mei Ling tidak merasakan gejala-gejala kehamilan.

Sifat cowok


Monday, June 29, 2015

Cerita Dewasa Ngentotin Kakak Tersayang

Halo, panggil aja gue Tomy, umur gue 22 tahun. Gue mo cerita tentang hubungan gue dengan kakak kandung gue sendiri. Istilahnya Incest. Jelas menyimpang dan tidak lazim, cuman yang gue mo tekanin bahwa inilah kenyataan hidup yang bukan tidak mungkin terjadi. Karena web ini adalah web dewasa dan kita disini bukan untuk menjudge siapa yang bejat dan siapa yang tidak, hanya untuk have fun dan sharing informasi, makanya gue mau cerita disini.
Thanks buat bung Ajis dan rekan-rekan dibelakangnya.Hubungan kami sudah berlangsung selama 3 tahun, sekitar tahun 2008 lah. Waktu itu gue masih kuliah tingkat satu, masih culun banget. Kakak gue juga masih kuliah, cuman udah tingkat akhir. Kita beda 4 tahun. Sekarang gue udah tingkat 4 dan kakak gue sudah bekerja disuatu instansi swasta.

Mungkin gue kasih dulu deskripsi kakak gue itu seperti apa. Dia tinggi, langsing, kulitnya putih banget, pokoknya potongan peragawati. Rambutnya lurus sebahu, wajahnya…. nah ini, bukannya gue nepotisme, tapi dia cakep banget deh, suerrr, ini pandangan objectif cowok terhadap cewek.

Gue sendiri cuman sekuping dia, dan kulit gue gak seputih dia. Kadang2 gue suka mikir, jangan-jangan waktu lahir gue ketukar dirumah sakit. Sifatnya pun ramah, cepat akrab sama orang, nggak sombong mentang2 cakep. Sejak dari dia SMA sampe sekarang, udah nggak kehitung deh jumlah cowok yang nekat datang kerumah gue, apalagi kalo pas malam minggu. Gue sampe sebel ngeliatnya. Ada yang datang rame-ramelah, ada yang belagak pinjam bukulah, pinjam buku kok pas malam minggu, bisa aja lu.
Dia seperti kakak sekaligus orang tua bagi gue, soalnya bokap nyokap jarang dirumah, maklumlah produk metropolitan, semua orang harus sibuk bekerja. Paling mereka ada dirumah pagi-pagi sekali atau malam hari, itu pun juga kalo gak ada dinas ke luar kota. Jadi dia yang ngurus rumah kalo Bo’ Nyo’ gak ada. Mungkin karena umur kami beda cukup banyak dan gue adek satu-satunya, dia perhatian banget dan lebih banyak ngalah ke gue, walaupun kadang-kadang penyakit jahilnya suka kumat. Hubungan kami cukup akrab dan kompak, saling melindungi kalo lagi diomelin Ortu. Walaupun kadang-kadang berantem itu kan biasa. Pernah gue ketauan sama dia waktu bareng temen-temen nonton bokep dirumah, waktu itu Bokap Nyokap lagi keluar kota. Dia langsung ngebentak “Ini anak-anak kecil pada nonton apaan”, waktu itu gue masih SMP hihihihi….
Temen-temen gue langsung kocar-kacir pulang, meninggalkan gue sendirian bersama kaset video terkutuk itu, padahal bukan punya gue, gue yang ketiban sial. Dia ngomelin gue habis-habisan, gue takut banget waktu itu. Semalaman gue gak bisa tidur, memikirkan bencana apa yang besok bakal menimpa gue, soalnya besok Bo’ Nyo’ pada pulang nih, gue pasti dilaporin. Besoknya gue langsung minta maaf sama dia, disuruh ngapain juga gue rela deh asal nggak dilaporin. Ternyata dia gak marah, gue cuman dinasehatin, filmnya juga gak disita, disuruh balikin ke temen gue. Ohhh indahnya dunia. Rasanya pengen gue cium dia waktu itu, dia cuman senyum-senyum aja ngeliat wajah gue gak seputih mayat lagi.
Mungkin karena pengawasan orang tua kurang, gue berdua agak bebas dalam bergaul. Yah… gue akuin lah kakak gue tuh nggak alim-alim amat orangnya, gue bisa bacalah sedikit-sedikit. Habisnya temennya banyak, mereka seneng banget jalan, kalo libur pulangnya tengah malam terus, bahkan kadang2 gak pulang. Hobynya sih ke cafe, kalo dia pulang suka tercium aroma alkohol dari nafasnya, walaupun gak pernah sampe drunk.
Kalo soal cowok, dia sih nggak tipe suka gonta-ganti cowok. Waktu itu dia punya cowok, mereka udah cukup lama berhubungan. Kayaknya mereka udah dekat banget. Kemana-mana jalan selalu bareng cowok itu. Sering kepergok sama gue dirumah mereka lagi pelukan, kadang-kadang lagi ciuman hot. Kakak gue nih termasuk cewek yang nafsu seks nya tinggi, kalo udah naek, desahan dan rintihannya kayaknya gak bisa ditahan lagi, padahal kan dia tau gue ada dikamar. Gue jadi hoby ngintipin kakak gue itu kalo lagi pacaran dirumah. Biarpun kakak, horny juga gue ngelihat dia kalo lagi in action begitu. Gue rasa sih mereka pasti sudah sering make love. Gue pengen banget mergokin dia lagi make love, siapa tau dia sering make love dirumah kalo gue gak ada, tapi niat gue gak pernah kesampaian.
Nah awalnya sekitar 3 tahun yang lalu. Kakak gue berantem dan putus sama cowoknya. Wah… dia sress berat, berhari-hari gak keluar kamar, gak mau makan, gak mau kuliah, kerjaannya cuman nangis doank dikamar. Terpaksa gue ikutan diruman, nemenin dan jagain dia, gimana coba kalo sampe bunuh diri. Kalo udah bosen sendirian, dia minta ditemenin, terus dia curhat dan ujungnya pasti nangis lagi. Kalo udah gitu paling gue cuman bisa meluk dia dan menjadi pendengar yang setia. Pernah waktu dia lagi curhat begitu terus gue ketiduran karena udah bosen denger ceritanya yang itu-itu aja. Begitu ketauan dia langsung marah besar dan ngambek, gak mau ngomong lagi. Terpaksa gue seharian merayu dia biar mau ngomong lagi.
Seminggu setelah itu hobynya pergi ke cafe kumat lagi, mungkin sebagai pelarian buat melupakan penderitaannya. Pulangnya selalu after midnight, nafasnya udah bau alkohol, terus langsung ke kamar dan tidur sampe siang. Malamnya pergi lagi. Lama-lama gue jadi sebel, habisnya gue udah kayak hansip aja, bukain dia pintu tengah malam. Kalo gue bilangin dia langsung nangis, “Habis gue mesti gimana donk, Tom ?”, kalo udah nangis gitu gue jadi ikutan bingung. Malam itu dia pulang larut banget, kali ini dia keliatan agak mabok. Matanya merah dan jalannya agak sempoyongan. “Dari mana aja sih ?” kata gue galak. Dia diam aja terus langsung masuk kamar. Gak lama dia keluar lagi dan langsung lari ke kamar mandi. Gue denger dia nembak disana. Gue samperin aja, takut kenapa-kenapa. Gue lihat dia lagi berlutut didepan WC. Kasihan juga gue ngeliat dia, terus gue pijat pundaknya biar muntahnya keluar semua. Habis itu gue bantu dia cuci muka dan membopongnya kekamar. Dia udah lemes banget, wajahnya pucat pasi.
Gue rebahkan dia diranjang, tapi dia minta didukukin menyender ke tembok. Waktu itu dia masih mengenakan jins dan kaos hitam ketatnya. Dadanya jelas membayang naik turun seirama nafasnya yang mulai teratur. Dia diam aja, teru mulai nangis lagi, sambil mulutnya mulai ngomong tentang mantan cowoknya lagi, rupanya malam ini adalah hari jadi mereka. Aduhh… pusing deh gue kalo udah begini. Akhirnya karena gak tau mo ngapain, gue peluk aja dia, dan membiarkan dia menangis dibahu gue. Dadanya menempel erat di dada gue. Terus terang gue horny jugalah dalam kondisi begitu. Dia terus aja menceracau, tentang cowoknya yang jahat, semua cowok didunia jahat, terus gue bilang gue kan gak jahat. “Iya, cuman kamu yang gak jahat, cuman kamu yang baek” or something like that.
Terus pipinya mulai menempel dipipi gue, dia mulai berbisik ditelinga gue, tambah horny aja gue ngerasain bibirnya menyentuh telinga gue. Masih jelas tercium nafasnya yang berbau alkohol. Gue peluk dia makin kencang, tangan gue meraba-raba punggungnya. Dia juga makin kencang memeluk gue. Nafasnya makin memburu ditelinga gue, kemudian dia berbisik, “Tom, tolongin gue Tom, tolongin gue, sekali ini aja”, tau-tau dia mencium bibir gue, gue kaget banget, gue cuman bisa bengong, kemudian dia berhenti dan menatap gue lekat-lekat, matanya mulai sayu, wajahnya saat itu bukan seperti wajah kakak gue yang selama ini gue kenal, “Tom, please, tolongin gue” dia berbisik lagi dengan nafas memburu, kemudian langsung melumat bibir gue, ciumannya panas, lidahnya langsung mencoba masuk kemulut gue, damn she’s like a pro. Antara sadar dan nggak, gue mulai membalas ciumannya, pikiran sehat gue waktu itu masih bisa mikir, tetapi naluri seorang cowok berkata lain, antara bingung dan ragu gue mulai merespons ciumannya. Gue gak tau, mungkin karena efek alkohol dan sudah lama tidak make love yang membuat tegangannya tinggi begini.
Sambil tetap mencium, dia mendorong dan merebahkan badan gue, tubuhnya tepat menindih tubuh gue. Ciumannya semakin mengganas, erangan dan rintihannya mulai terdengar, dan kesadaran gue semakin hilang. Bayangan dia ketika bermesraan dengan cowoknya dan keinginan gue yang terpendam mulai menari-nari didepan mata. Kemudian dia menghentikan ciumannya, mengangkat tubuhnya dan duduk diselangkangan gue, lalu dia membuka kaosnya dengan terburu-buru, sekilas terlihat tubuh putihnya yang selama ini belum pernah gue lihat, bra hitam masih membalut dadanya. Hanya sekejap, sebab dia langsung merebahkan tubuhnya kembali dan mencium gue. Gue masih memeluk punggungnya yang telanjang, belum berani meraba dadanya. Sambil tetap mencium, dia mulai menarik-narik kaos gue keatas, gue bantu dia dengan menggerak-gerakkan badan, dan zap…. secepat kilat kaos gue udah nyangsrang di karpet kamarnya. Kemudian dia mulai mencium leher dan dada gue.
Ciuman ganasnya, erangan dan rintihannya, dadanya yang hanya ditutupi selembar kain tipis dan menekan dada gue, dan pinggulnya yang bergoyang erotis mendesak selangkangan gue, mulai memburamkan pikiran sehat dan keraguan gue. Dan begitu bibir dan lidahnya menghisap puting kanan gue, disanalah kesadaran gue hilang sama sekali. Kakak, kakak deh, bodo amat, lagian bukan gue yang memulainya, begitu pembelaan batin gue. Gue langsung membalikan badannya dan menindihnya. “Aahhh…..”, terdengar rintihannya lepas begitu berat tubuh gue menimpa tubuhnya. Sekarang giliran gue. Gue cium bibirnya mungil merekah habis-habisan, kemudian bibir gue mulai merambati leher jenjangnya, terus menggelitik daun telinganya, sementara tangan gue meremas-remas dadanya. Lenguhannya semakin keras. Tangan gue mulai meraba punggungnya mencari kait bra hitamnya. Agak susah memang, soalnya gue biasa dibukain…hehehe. Begitu terlepas langsung gue renggut branya, dia membantu mengangkat tangannya. Dan… terpampang lah buah dadanya didepan mata gue, putih mulus dan kencang, dengan puting kecil yang sudah mencuat, ukurannya sebenarnya tidak seberapa besar, tetapi proporsional dengan tubuhnya yang ramping. Gilaa… mimpi apa gue kemaren, hari ini bisa melihat buah dada kakak gue.
Dengan cepat gue langsung menghisap dan menjilat kedua puting itu. Efeknya luar biasa, dia langsung melenguh keras dan mengangkat tubuhnya. Terus gue hisap, jilat, gigit-gigit sedikit, remas, dan tubuhnya mulai bermandikan keringat, diiringi rintihannya, sekilas gue lihat wajah kakak gue itu, kepalanya gak mau diam, matanya terpejam, rambutnya sudah berantakan, wow… seksi sekale. Ciuman gue mulai turun ke perutnya yang rata. Tangannya mulai membuka gespernya sendiri, terus kancing jinsnya, dan terakhir resletingnya. Kemudian dia mulai berusaha menurunkan celananya, pantatnya diangkat, dan kakinya menendang-nendang liar.
Akhirnya gue bantu dia membuka jinsnya. Sekarang terpampang tubuh kakak gue hanya berbalut celana dalamnya. Wow.. indahnya. Gue langsung menubruk dan menindihnya dan kembali kita berciuman panas. Pinggul gue langsung menekan-nekan selangkangannya. Pasti dia bisa merasakan penis gue soalnya gue cuman pake celana pendek buat tidur. Rintihan dan erangannya semakin keras, matanya tinggal putihnya, terutama ketika gue dengan keras menekan selangkangannya, sambil ciuman tak pernah lepas dari bibirnya. Karena udah gak tahan, dia dengan kasar membalikan tubuh gue, dalam posisi setengan menindih tubuh gue, dia mulai membuka celana dalamnya sendiri, menendangnya hingga terlepas, kemudian mulai memelorotkan celana pendek sekaligus cd gue.
Zap… sekarang gue dan kakak gue telanjang bulat berdua dikamar ini. Dalam mimpi pun gue gak pernah membayangkan seperti ini. Gue lihat bulu kelaminnya, gile nih kakak gue, lebat bo’. Penis gue langsung mencuat keatas. Sambil mencium gue, dengan agak ragu dia mulai meraba-raba adek kesayangan gue, jarinya yang lentik dan lembut jelas beda dengan tangan gue yang kasar, sesak nafas gue dibuatnya. Gue beranikan diri meraba vaginanya, bulunya tebal, dan bibir vagina yang hangat dan sudah sangat basah, gile kakak gue lagi horny habis rupanya. Kemudian dia membalikkan badanya kembali sambil menarik tubuh gue, meminta gue diatas tubuhnya.
This is the point of no return. Gue tindih tubuhnya, penis gue menekan keras perutnya. Tubuh kami sudah bersimbah keringat. Gue tatap wajahnya, matanya sayu, nafasnya memburu, bulir-bulir keringat muncul diwajahnya, rambutnya kusut masai, beberapa menempel dikening karena keringatnya. Gue memandang matanya meminta persetujuannya. Dia hanya memejamkan mata dan mengalungkan tangannya di leher gue. Gile gimana nih, waktu itu kesadaran gue balik sedikit, sedikit aja jangan banyak-banyak. Biar bagaimanpun dia kan kakak gue, gila apa gue mau melakukan hal itu sama dia. Lagian gue belum pernah melakukannya, peting-peting doank sih sering, tapi belum pernah sampe penetrasi begini. Masa keperjakaan gue gue kasih sama kakak gue sendiri.
Ditengah keraguan begitu, kakak gue membuka matanya dan berbisik, “Tom, please”, kemudian dia mencium gue penuh perasaan, terbias jelas perasaan sayangnya ke gue, sambil tangannya tambah erat memeluk leher gue. Dan keraguan yang tadi langsung hilang. “Kak, gu..gue belon pernah”, kata gue jujur. Dia lalu menjulurkan tangannya menggengggam lembut penis gue, kemudian dibimbingnya menuju vaginanya. ia mengangkat sedikit pinggulnya dan gue mulai memposisikan diri, kepala penis gue tepat berhenti dibibir vaginanya. Sentuhan pertamanya seperti sengatan listrik. “Pelan-pelan ya”, bisiknya. Kemudian sambil tetap menatap wajahnya, gue mulai menekan penis gue masuk sedikit demi sedikit. Kakak gue mengangkat wajahnya dan menggeliat, sambil membisikkan nama gue, “Toomm..hhhhh…”, ekspresi seorang wanita yang dilanda kenikmatan. Gilaaaa banget rasanya, tak terlukiskan, rasa hangat dan jepitan di penis gue, menatap wajah seorang wanit cantik menggeliat tepat dibawah gue, dan kenyataan bahwa wanita itu adalah kakak gue sendiri, benar-benar suatu paduan yang sukar diungkapkan, efek psikologisnya berbeda dengan apabila gue sedang bermesraan dengan cewek laen.
Gue mulai memompa pelan-pelan, kakak gue mulai menggoyangkan pinggulnya menyatukan irama, seiring dengan meningkatnya tensi, sambil tetap mencium bibirnya, goyangan semakin gue percepat. Derit ranjang, suara pergesekan dua tubuh, suara erangan, rintihan, dan desahan kenikmatan memenuhi kamar. Kemudian semakin lama, kakak gue semakin tidak terkontrol, dia memutar-mutar pinggulnya, tangannya mencakar-cakar punggung gue, tubuhnya menggeliat kesana kemari, kepalanya digoyang-goyangkan kekiri-kekanan, selalu lepas kalo gue cium, bibirnya menceracau memanggil-manggil nama gue, desah nafasnya semakin memburu, erangan dan rintihannya semakin keras, sampe gue takut kedengaran orang laen. Gile banget nih kakak gue, jangan-jangan dia udah sering banget beginian, kok bisa jadi ahli banget. Praktek langsung gue emang nol, tapi kalo soal teori beginian, gue boleh diadu sama ensiklopedi seks, hehehe.
Mungkin karena dia udah horny berat, cuman sebentar, hanya beberapa menit saja, dia udah orgasme. Tiba-tiba dia memekik histeris, sambil memeluk gue keras banget sampe gue gak bisa nafas, tubuhnya kaku, wajahnya menggambarkan dia tengah dilanda kenikmatan amat sangat, cantik sekali, dan vaginanya itu…. ampun-ampunan, mendenyut-denyut teratur, semakin basah, dan jepitannya makin keras. Gileee gue jelas gak tahanlah, untung baru kemaren gue coli, kalo gak gue udah KO dari tadi-tadi, namanya juga baru pertama kali. Gue gak sempat mikir lagi, langsung keluar, rasanya banyak banget dan gak berenti-berenti, wah.. gue menyemprotkan air mani gue divagina kakak gue sendiri, wuiihh rasanya kayak dilempar kelangit ketujuh puluh. Gue langsung jatuh lemas, tiduran diatas tubuh kakak gue. Kakak gue juga masih kejang-kejang sebentar, kemudian dia mendesah panjang, dan tubuhnya terkulai lemas.
Begitu gelombang kesadaran perlahan-lahan kembali, berjuta rasa penyesalan, takut, bingung, malu, dan entah apa lagi berkumpul menjadi satu. Gue maluuuuuu banget waktu itu. Setan apa yang ada dibenak gue sampe gue tega menyetubuhi kakak sendiri, kakak yang gue sayangi, darah daging gue sendiri, walaupun dia duluan yang mulai, tapi dia kan lagi agak mabok dan sedang labil emosinya, ya tetap aja gue yang salah. Tanpa ba bi bu, gue langsung bangkit, buru-buru pake celana, dan memungut baju gue, sebelum pergi gue lihat dia masih berbaring sambil berusaha menutupi tubuhnya dengan kain seadanya, dia menutupi wajahnya dengan tangannya. Gue tarik selimut yang terjatuh dibawah, gue selimutin dia, dan tanpa ngomong sepatah kata pun, gue kabur dari situ, masuk kekamar gue sendiri. Waktu itu udah sekitar jam 3.00 pagi, pengen rasanya gue packing ransel gue dan langsung kabur dari rumah ini, gak tau kemana pokoknya pergi jauhhhhhhh banget. Gak ada muka gue buat ketemu kakak gue besok paginya. Mau taro dimana nih muka hhhiiiiiii, ngebayanginnya aja udah gemeteran gue. Gimana kalo hamil, aduhh aduhhh, mendingan gue bunuh diri aja deh. Akhirnya karena letih gue akhirnya tertidur juga.

Sunday, June 28, 2015

Pacaran Jangan Serius Kali Ya


Kawan Kuliah Minta Di Ambil Perawan nya

Pengalaman ini terjadi sekitar 15 tahun yang lalu.
Saya baru saja lulus SMA dan sedang persiapan mendaftarkan diri ke perguruan tinggi.
Saya termasuk pria yang bertampang lumayan, cukup pintar, dan berperawakan sedang.
Panggil saja saya, Budi.
Selama di SMA, saya mempunyai kelompok teman yang selalu bermain bersama.
4 anak laki-laki dan 7 anak perempuan.
Sebagian besar teman-teman saya melanjutkan ke perguruan tinggi di luar negeri
 karena memang sekolah saya termasuk sekolah elite di kota J yang menghasilkan siswa-siswi dengan hasil lulusan yang cukup baik.
Karena saya berasal dari keluarga ekonomi menengah, pilihan sekolah ke LN menjadi tidak mungkin.
Dari kelompok kami hanya tersisa 3 teman perempuan dan saya.
Kami bingung mau melanjutkan ke mana, tetapi akhirnya kami memutuskan untuk ke kota B yang mempunyai beberapa universitas swasta dan negeri yang cukup terkenal.
Saya, Rika, Nova, dan Jenni memutuskan untuk mendaftar bersama ke kota B. Di sinilah petualangan kami dimulai. Kami berkumpul bersama di rumah Jenni dan orang tuanya meminjamkan mobil mereka untuk kami pakai. Kami memang sering pergi berkelompok dengan meminjam mobil orang tua dan kadang sampai menginap beberapa hari di luar kota. Jadi pada saat kami pergi, orang tua teman-temanku tanpa curiga mengijinkan putri-putri mereka berangkat ke kota B dan menginap tiga malam di sana.
Sekalian liburan kata kami.
Perjalanan ke kota B berjalan lancar dan kami menghadapi ujian masuk dengan kepercayaan tinggi.
Maklum, kami semua termasuk berotak encer.
Sore hari kami setelah selesai ujian masuk, kami segera mencari penginapan yang terkenal dengan daerah sejuknya di sekitar kota B.
Kami menyelesaikan administrasi dan segera masuk ke kamar.
“Wah! Ternyata kamarnya besar juga yah! Ada ruang tamunya lagi,” kataku.
“Budi, kamu tidur di sofa aja yah! Kita berdua ambil ranjangnya!” sahut Nova.
“Yah… Curang… kan baru kali ini saya menginap bareng perempuan dalam satu kamar! Siapa tahu….” komplainku.
“Maunya..” kata Jenni sambil mendorong diriku ke arah sofa.
Kami semua menjatuhkan pantat di sofa sambil melepas lelah. Setelah berbincang selama setengah jam mengenai soal-soal Ujian masuk tadi siang, kami pun bergantian mandi menyegarkan badan.
Kami pun memesan makan malam dari room service karena kami terlalu lelah untuk keluar mencari makan.
Rika akan menyusul besok pagi dan ketemuan di kota B. Dia sudah menghadapi ujian masuk seminggu lalu. Pilihan universitasnya berbeda.
Oh iya, saya belum menjelaskan penampilan teman-teman saya.
Rika : Gadis ini pemalu dengan badan kecil yang sangat indah. Saya tahu ini karena Rika sangat suka memakai baju yang menunjukkan lekuk badannya. Dadanya berukuran sedang saja, 34B (saya tahu setelah melihat BH-nya dan BH yang lain nanti). Kecil-kecil imut merupakan kesan yang diberikannya. Senyumnya manis sekali.
Nova: Gadis ini juga berbadan kecil tetapi dengan dada yang terlihat jauh lebih besar daripada milik Rika. 34C ukuran BHnya. Mulutnya kecil dengan bibir tipis yang memberikan senyum menggoda. Hampir semua anak laki-laki di sekolahku mengejar dia. Manis dengan dada besar. Siapa yang tidak tertarik?
Jenni: Gadis bertubuh jangkung yang senang memakai kaos longgar dan berjiwa bebas. Asyik diajak bertukar pikiran, pintar, dan sedikit tomboi. Senang sekali olahraga dan sangat jago bermain volley. Paling enak jadi lawan mainnya di lapangan. Posisiku sebagai tosser sering membuatku berada di depan net dan berhadapan muka dengan Jenni. Posisi siap menerima bola dan kaos longgarnya sering mengganggu konsentrasiku di lapangan.
Jenni : “Mau ngapain nih? Baru jam 6 sore kita dah selesai makan malam.”
Nova : “Kita main kartu aja yuk”
Budi : “Memangnya bawa?”
Nova : “Bbawa kok. Rika, ayo dikeluarin. Kita main poker aja. Pakai uang bohongan aja. Biar seru ada taruhannya.”
Kami pun bermain selama satu jam ketika Nova menyeletuk.
Nova : “Tidak seru nih.. bosan.. gimana kalau dibuat lebih seru?”
Budi : “Maksud kamu, Nov?”
Nova : “Strip poker!!”
“Gila kamu, Nov!”
Nova : “Kaga berani?”
Saya lagi terpatung dengan keberanian ide Nova.
Jenni : “Siapa takut? Berani kok walau ada Budi!”
Pipi saya jadi memerah dan berasa panas. Ada rasa malu juga.
Glek.. saya menelan ludah.. Ada kemungkinan dua gadis muda cantik akan telanjang di depanku.
Nova : “Berani tidak, Bud? Diam aja. Malu yah telanjang di depan cewek-cewek?’
Wah, otakku langsung berputar cepat. Harus memikirkan semua kemungkinan. Jangan sampai saya kalah dan tidak melihat gadis-gadis telanjang.
Budi : “Berani dong! Tapi nanti kalian curang, kaga berani buka beneran!”
Nova : “Kalo ada yang kaga berani buka, kita semua yang paksa buka! Setuju tidak?”
Kita semua menganggukkan kepala menandakan persetujuan.
Jantungku makin berdebar kencang dan kelaminku mulai mengeras karena kemungkinan kejadian di depan mata.
Budi : “Ya dah.. Aturannya gimana nih Nov?”
Nova : “Kita semua punya modal 1000. Taruhannya setiap kelipatan 10 dan paling besar 100. Kalau modal 1000 habis, gadaikan pakaian dengan harga 500. Setuju?”
Kami semua setuju.
Budi : “Kita main sampai kapan? Sampai satu orang bugil atau sampai semua bugil?”
Nova : “Sampai semua bugil dong! Biar adil!!”
Jenni: “Ok deh. Tapi kasihan Budi dong. Dia kan paling cuma punya 3 potong baju. maksudnya cuma kaos, celana dan celana dalam.
Kita cewek-cewek kan kelebihan BH.”
Nova : “Iya yah… ya udah biar adil, kita semua lepas BH deh.”
Nova langsung dengan cekatan melepas BH merah mudanya tanpa melepaskan kaos dan melemparkan BHnya ke mukaku.
Harumnya BH langsung memenuhi hidungku. Tanpa kusadari BH kedua pun mendarat di mukaku. Ini milik Jenni.
BH dengan warna cream kulit.
Hahahahaha… kamipun tertawa bersama.
Nova : “Ayo mulai! Sudah adil kan, Bud? Kita masing-masing cuma punya 3 modal.”
Budi : “Sebentar.. pakaian yang sudah ditanggalkan bisa dipakai lagi ga?”
Nova : “Hmm… TIDAK BOLEH! Yang sudah lepas, tidak boleh dipakai lagi!”
Budi : “Kalau yang sudah bugil kalah lagi gimana? Kan modalnya habis!!”
Nova : “Banyak nanya yah kamu, Bud! Gimana Jen?”
Jenni : “Boleh dipegang-pegang deh sama yang menang. Dipegang-pegang selama 1 menit!”
Wah asyik nih peraturannya… tetapi otakku sudah mulai pindah ke kelamin nih..
“Pegang doang kaga seru ah, gimana kalo dadanya dihisap-hisap!”
Nova : “Ih kamu, Bud…. Mau dong!!” Dengan suara manisnya sambil melirik nakal ke arahku!”
Jenni dan Nova tertawa terbahak-bahak.
Nova : “Tapi kalau kamu yang sudah bugil dan kalah gimana, Bud? Saya hisap tititnya yah!!”
Jenni : “Wah saya juga mau hisap titit Budi!”
Benar-benar tidak disangka! 3 tahun bersama di SMA, saya tidak menyangka teman-temanku ini nakal juga.
Permainan pun dimulai.
Keahlianku bermain strip poker di komputer ternyata sangat bermanfaat.
Jenni segera kehilangan modal awal sehingga harus menggadaikan modal berikutnya.
Jenni hendak membuka celananya, tetapi dicegah oleh Nova.
Nova :”Wah kaga boleh sendiri yang nentuin buka celana. Budi, mau suruh Jenni buka apa?”
Wow, thanks Nova! Aku teringat kalau mereka sudah lepas BH, tentunya dengan melepas kaos, dada Jenni akan terbuka.
Budi : “Tentu saja kaos dong. Kapan lagi bisa lihat payudara dari dekat!”
Jenni dengan malu-malu mulai melepas kaosnya dan dengan segera menutupi puting payudaranya dengan satu tangan.
Saya terkesima dengan pandangan indah di depan mata. Animasi strip poker di permainan komputer tidak seindah
pemandangan di depan mata.
Nova : “Jen.. mana boleh ditutupin dadanya. Buka dong!”
Nova menggaet tangan penutup payudara dengan segera.
Jenni sedikit memberontak sambil memerah wajahnya. Jenni tertarik tangannya,
memperlihatkan payudara terbuka dan menggantung indah di depan wajahku. Glek.. saya menelan ludah.
Jenni : “Bud, tutup mulut dong.. Masa sampai menganga terbuka gitu melihat dada gue.”
Jenni dan Nova tertawa. Ini membuat Jenni jadi relaks dan pasrah dadanya terpampang jelas.
Wah kalo mereka serius kayak gini, mendingan saya kalah saja. Mengingat kalau kalah terus, tititku akan dihisap selama 1 menit setiap kekalahan.
Hahahaha.. otakku kotor juga.
Maka dilanjutkanlah permainan. Dengan segera saya menjadikan diri telanjang.
Celana dalam saya buka perlahan-lahan memperlihatkan titit yang sudah mengeras sejak tadi.
Saat itu, Nova, dengan payudara montoknya pun tinggal celana dalam saja.
Kedua gadis ini memperhatikan celana dalamku dengan seksama sambil menahan napas menunggu tititku seluruhnya terlihat.
Nova : “Wah sudah keras yah, Bud! Bagus lho bentuknya!”
Budi : “Gimana tidak keras… ngelihat dua pasang payudara yang bagus-bagus!”
Rupa-rupanya Nova sudah tidak tahan lagi. Aku langsung ditabraknya dan tititku langsung dipegangnya.
Dengan gemas Nova mulai mengocok tititku sambil sesekali dijilatnya. Tentu saja saya tidak tinggal diam.
Tanganku mulai meremas-remas payudara Nova yang cukup besar.
Tidak cukup dengan remasan, akhirnya aku meraup payudara kiri dan mulai menghisapnya.
“Ahh.. Enak banget, Bud! Terus hisap..”
Sambil menghisap payudara Nova, tanganku mulai melepaskan celana dalamnya. Karena saya tidak mau melepaskan hisapan, tentu saja melepaskan celana dalam jadi lebih sulit. Nova membantu dengan melepaskan celana dalamnya sendiri.
Tititku yang menjadi lepas dari pegangan Nova, langsung disambut Jenni dengan kulumannya.
Mimpi apa semalam. Dua gadis sudah mengulum tititku.
Kami pun pindah ke ranjang. Saya berbaring di ranjang dengan titit menjulang langit.
Nova melanjutkan memberikan payudaranya untuk saya hisap dan Jenni kembali mengulum tititku.
Tangan saya mulai bergerilya ke vagina Nova. Basah. Licin.
Saya pun mulai menggesekkan jari ke clitorisnya. Licin sekali.
Nova pun mendesah dengan kenikmatan yang dialaminya di bawah.
Jenni yang melihat Nova mengalami kenikmatan, mengubah posisi pantatnya ke sebelah mukaku.
Badan jenjangnya memang membuat posisi hampir 69 tersebut sangat mudah terjadi.
Tanganku pun menggosok vagina Jenni yang juga sudah sangat basah. Tangan kiri di vagina Jenni, tangan kanan di vagina Nova.
Kukocok keduanya dengan kelembutan yang lama-lama bertambah cepat.
Jenni dan Nova blingsatan dibuatnya. Jenni berguncang hebat sampai melepaskan hisapan di tititku dan mengeluarkan lenguhan
panjang yang sangat seksi. Nova menyusul dengan teriakan yang tidak kalah seksinya.
Keduanya terjatuh di kiri kananku dengan lemasnya.
Aku yang sudah tegangan tinggi tidak mau tinggal diam. Aku menghampiri Nova dan membuka lebar-lebar selangkangannya.
Terlihat vagina bersih yang sangat indah. Bulu-bulu halusnya sangat seksi.
Aku mulai menggesekkan kepala tititku ke vagina Nova. Ah….. licin dan enak.
Belum pernah aku merasakan kenikmatan seperti ini.
Nova yang mulai merasakan kenikmatan, mulai bereaksi dengan menggerak-gerakkan pinggulnya mengikuti irama gesekan.
Nova semakin meracau…”Oohhh… aahhh… ohh..my… God…..Enak banget Bud”
“Terus Bud… Enak… ahhh…aahhHHH….AAAHHHHHH…Gila.. enak banget Titit lu Bud!! Gue dah sampe nih”
“Baru digesek aja dah enak gini yah, Bud… gimana kalo dimasukin yah? Masukin deh Bud..”
“Serius lu, Nov? Lu mau gue perawanin? Gue sih dah nafsu banget nih.”
“Iya, Bud… Gue pengen ngerasain titit lu di dalam gue… di luar aja dah enak, apalagi di dalam.”
Aku tidak pikir panjang lagi.. langsung berusaha merangsek ke dalam vagina Nova.
“Oww.. pelan-pelan Bud.. Sakit tahu!!”
“Ok, Nov.. gue pelan-pelan nih”
Pelan-pelan kepala titit gue mulai terbenam di vagina Nova.
Terasa mentok. Aku yang tidak pengalaman berpikir kok tidak dalam yah?
“Nov, udah masuk belom sih?”
Nova yang mulai meringis menahan sakit, “Kayaknya sih belom deh… tapi terusin aja.”
“Lu yakin, Nov? Kayaknya lu kesakitan gitu.”
“Terus aja, Bud. Gue pokoknya mau titit lu di dalam gue.”
“Ya udah kalo gitu.. Gue terusin nih..”
Dengan tiga sodokan keras yang disertai rintihan Nova, akhirnya tititku masuk juga sepenuhnya.
“Wah.. Nova… kayaknya titit gue dah masuk semua nih”
“Iya.. Bud…” sambil menahan sakit “diam dulu, Bud.. jangan digerakin dulu..gue masih rada sakit..”
Ahh.. nikmatnya vagina perawan.. tititku berasa banget diremas-remas oleh vagina sempit Nova.
Tanpa kusadari, aku mulai menggerakkan pelan-pelan pantatku.
Keluar masuk secara perlahan.
Nova pun mulai bernafas secara teratur dan mulai menikmati kocokan lembut di vaginanya.
“Pelan-pelan yah Bud… masih sakit tapi dah mulai enak nih… vagina gue berasa penuh banget diisi titit lu”
Jenni yang dari tadi menonton menunjukkan ekspresi tidak percaya.
“Gila lu berdua.. beneran ngentot yah?”
Jenni pun mendekati TKP dan memperhatikan dengan seksama.
“Gila.. gila.. titit lu beneran masuk ke vaginanya Nova, Bud!”
“Iya Jen.. Enak banget vagina Nova.. gue bisa ketagihan ngentot nih.”
Tiba-tiba ada keinginan yang luar biasa untuk segera sampai.. kupercepat goyanganku.
Nova pun semakin mendesah menggila. “Ahhh…Ohhh…Ahhh…Ohhh…Bud.. gue mau sampe lagi nih”
“Barengan Nov.. gue juga mau sampe..”
Di kepalaku tidak teringat lagi pelajaran Biologi, kalau sperma ketemu sel telur akan menghasilkan zygot yang akan berkembang menjadi bayi.
“Ayo.. Bud… kita bbaaareeennggg….”
Croootttt…croottt.. croottt…Tiga kali aku menyemprotkan mani ke rahim Nova.
Ahh… ini perasaan yang luar biasa… kenikmatan berhubungan badan dengan seorang gadis muda yang cantik.
Beda banget sama masturbasi. Hubungan langsung lebih nikmat. Aku langsung terjatuh lemas di sebelah Nova.
Jenni yang melihat pertunjukkan langsung bagaimana berreproduksi mulai mendekati tititku lagi dan menghisapnya dengan lembut.
Nafasku yang tersengal-sengal perlahan-lahan menjadi teratur seraya menikmati hisapan-hisapan Jenni.
Dikocoknya perlahan tapi pasti membuat tititku menjadi tegang kembali.
“Bud, jangan dimasukin yah. Ini pengen gue gesek-gesek ke vagina.”
“Iya, Jen.”
Jenni pun mengambil posisi WOT dan mulai menggesek-gesek vaginanya di atas tititku.
“Enak banget, Jen”
Goyangan lembut Jenni membuat payudaranya bergoyang-goyang secara anggun. Pemandangan yang sangat indah.
Jenni merupakan salah satu wanita impianku. Tinggi, berdada montok, atletis, senang bercanda, dan baik hati.
Sekarang dia sedang menggesekkan kelaminnya dengan kelaminku. Ah.. kepengen masukin d.
Segera kubalikkan posisi sehingga aku sekarang di atas.
Kakinya kubuka lebar-lebar. Terlihat vagina yang sangat indah. Bahkan lebih indah daripada punya Nova.
Mulus, hampir tanpa bulu. Warnanya pink dan telah basah mengkilap.
Tititku langsung berkedut-kedut melihatnya.
Kuarahkan tititku ke vaginanya.
“Bud, jangan dimasukkin yah!”
“Kenapa Jen? Sudah tidak tahan nih”
“Jangan Bud… jangan sekarang.” suaranya lembut meluluhkan hati.
Entah kenapa aku berhenti memaksakan kepala tititku. Akhirnya aku hanya menggesek-gesekkan kepala tititku di muka vagina Jenni.
“Ah… iya Bud.. Begitu saja… gesek saja terus… Ahh… Ahhh”
Jenni mulai lebih relaks dan lebih melebarkan posisi kakinya.
Melihat itu, aku semakin cepat menggesekkan titit. Semakin cepat gesekan, semakin keras desahan Jenni.
“OOhhhh… AHhhhh..enak Bud… Teruss.. Terusss.. Lebih cepat lagi… Tee..teeeruussss…. AHHHHHH.”
Jenni mendapatkan orgasmenya dan cukup banyak cairan O-nya yang keluar. Kasur menjadi basah sekali.
Aku melihat Jenni mengalami orgasme yang sangat seksi sampai aku terdiam terkesima.
Jenni cantik sekali…Aku benar-benar terpesona.. Sepertinya aku jatuh cinta dengan Jenni.
Nova yang telah cukup beristirahat dan melihat Jenni telah lemas mengambil alih situasi.
Dipegangnya tititku dan dikocoknya perlahan.
Tititku yang masih belum puas dengan Jenni membuat otakku segera beralih ke Nova dan menyuruhku untuk melampiaskannya ke Nova.
Lagi pula tititku bisa coblos ke dalam Nova.
Dengan segera kubalikkan Nova dan kucoba Doggy style di sebelah Jenni yang masih terbaring lemas.
Ternyata Doggy style memberikan sensasi yang berbeda. Rasanya tidak bisa dituliskan dengan kata-kata.. Hanya nikmat..
Walaupun Nova yang sedang aku sodok, tatapanku tidak lepas dari Jenni. Jenni membuka matanya dan menatapku dengan penuh kemesraan.
Senyumnya yang manis membuat hatiku bingung.
Di sini aku sedang jatuh cinta dengan Jenni, tetapi tititku sedang menikmati pelayanan Nova, dan Jenni tersenyum kepadaku.
Ah bingung…..
Aku pun tersenyum balik ke Jenni sambil semakin keras menyodok Nova.
Sodokan kerasku yang terus bertubi-tubi dari belakang membuat Nova tidak dapat menahan diri lagi dan dia mendapatkan orgasme lagi.
Aku memperlambat sodokanku agar Nova bisa menikmati orgasmenya.
Jenni bangun dan memberikan payudaranya ke mukaku.
“Hisap Bud! Biar lu tambah seru!”
Ah.. nikmatnya tetek Jenni.. Kenyal tetapi kencang.
Tentu saja akibat tetek Jenni yang nikmat, goyanganku ke Nova semakin bertambah cepat.
“Gila lu Bud, enak banget sih dientot dari belakang sama lu… gue.. mauuuuu… Ahhhhh…” Nova pun orgasme lagi.
Aku pun tidak tahan nikmatnya menghisap tetek Jenni sambil doggy ke Nova dan akhirnya.. croott…croott… dua kali aku semburkan spermaku.
“Bud enak banget disemprot elu… Rasanya nikmat.. kayak mandi air hangat.. tapi ini rasanya di dalam.’
Posisi kami belum berubah.. aku masih menancapkan titit ke dalam vagina Nova sambil terus menyemprotkan sisa-sisa sperma
dan mulutku terus mengulum, menghisap dan menggigit-gigit payudara Jenni.
“Enak yah Bud, isap tetek gue dan ngentot-in Nova”
“Iya Jen! Cuma impian bisa threesome kayak gini tapi gue bisa ngerasain kejadian benernya.”
“Udah dong Bud, cabut titit lu. Pegel nih nungging melulu” timpal Nova.
Kucabut tititku tetapi pandanganku terus menatap mata Jenni. Kelihatannya aku benar-benar jatuh cinta.
Malam itu kami tidur bertiga dalam keadaan bugil. Jenni di kananku, Nova di kiriku.
******
Tok tok tok.. Pintu kamar hotel diketuk.
Nova yang telah bangun lebih dulu membuka pintu dan Rika terlihat telah sampai dihantar oleh orangtuanya.
“Eh.. Rika” Nova panik “Bokap Nyokap lu mana?”
“Tenang Nova, mereka cuma menghantarku kok.. tadi langsung jalan lagi ke kota C.”
“Wah… lega.. gue pikir mereka mau masuk ke dalam.”
“Memangnya kenapa Nov? Eh… lu kok kaga pake BH?”
“Itu dia Rik.. takut ketahuan.. Gue kemaren berhasil nih”
“Berhasil apaan sih, lu?”
“Gue kasih perawan gue ke Budi!!”
“Haahh?? Yang bener lu? Jenni juga? Kita semua kan memang kepengen banget dientot Budi!!”
“Jenni belum.. masih perawan dia.. kayaknya takut.. tapi udah main juga sama si Budi, cuma belum dimasukin aja.”
“Gue jadi horny nih, Nov. Budi di mana? Mau gak yah dia?”
“Masih tidur tuh.. lu bangunin aja.. laki-laki kalo dikasih perawan mana ada yang nolak.”
“Hahahaha…bener juga lu!”
“Tuh lihat, Rika. Ada yang menonjol di selimut. Dia masih telanjang lho. Kita kemaren tidur begitu gayanya.”
“Jenni mana, Nov? Kok kaga ada?”
“Lagi di kamar mandi. Tuh lu urus si Budi aja. Pagi-pagi dah tegak gitu. Lu hisap aja dulu tititnya.”
Rika pun menghampiri ranjang dan segera menarik selimut sehingga tititku terbuka dengan leluasa.
Aku yang masih tidur tidak sadar apa yang sedang terjadi hanya mengetahui kalau tititku mengalami kenikmatan.
Perlahan-lahan kubuka mataku berpikir Nova atau Jenni sedang mengulum si junior.
“Hah? Rika? Ngapain lu?” tanyaku tanpa berusaha melepaskan diri. Lagi enak kok masa melarikan diri. Betul gak?
“mmlammggii hissmmmaaapp mttiimmtiitttmm mmlu” Jawab Rika dengan tidak melepaskan muatan di mulutnya.
“Hahahaha” Nova tertawa geli. “Lanjutin aja Rik, si Budi kaga nolak tuh.. cuma ngeliatin lu sambil merem melek gitu.”
Jenni yang mendengar tertawanya Nova, segera melongok keluar dan cukup kaget melihat Rika sedang mengulum tongkat kenikmatanku.
“Eh.. Rika… baru sampe langsung sarapan aja nih” tukas Jenni dengan nada yang menunjukkan kekagetan.
Jenni keluar dari kamar mandi sambil masih mengeringkan rambutnya.
Body Jenni memang luar biasa. Aku tidak bisa melepaskan pandangan dari tubuh langsing dengan payudara yang sempurna itu.
“Budi.. jangan ngeliatin gue aja dong.. Rika dah nafsu tuh… puasin gih… kayak lu puasin kita berdua kemarin. Iya gak Nov?”
“Iya Jen.. Ayo Bud.. Puasin Rika.. Perkosa dia.. hahahaha..”
“Kaga usah diperkosa.. orang gue mau secara sukarela kok” timpal Rika.
Mendengar jawaban Rika, aku segera beraksi.
Kucium bibirnya dan kami melewatkan beberapa menit melampiaskannya sambil bertukar air liur.
Rika badannya kecil sehingga dengan mudah kuangkat dari tepi ranjang dan meletakkannya di ranjang.
Kudekati Rika dan menciumnya lagi. Kali ini tanganku tidak tinggal diam. Payudara Rika aku pijat dan remas-remas halus.
Kaos ketatnya segera kubuka memperlihatkan tetek mungil yang kencang. Pentilnya telah keras menjulang ke atas.
Pentil yang bagus dan segera kulumat.
“Ohh.. enak banget Bud.. terus Bud….aahhh.. ahhh..” Rika meracau kenikmatan.
Hisapan dan kulumanku pun bertambah keras. Tititku sudah sangat kencang sekali.
Dengan sedikit agak kasar kulepaskan semua pakaian yang masih melekat di Rika.
Wow.. ternyata Rika mempunyai bulu jembut yang sangat lebat.
Lebat tapi terlihat sangat rapi dan terawat.
Kudekati vaginanya dan tercium wangi vagina yang merangsang.
Tapi Jenni punya lebih wangi.
Ah.. Jenni lagi.. ini ada gadis yang sukarela memberikan perawannya, kok masih mikirin perempuan lain.
Kulirik Jenni dan kulihat dia tersenyum penuh pengertian.
Kujilat vagina Rika sambil terus melihat Jenni. Jenni pun tersenyum terus dan memberikan anggukkannya seakan-akan mengerti
kalau aku sedang bertanya bolehkan aku menjilat memek perempuan lain.

Ohh…oohhh… enak banget Bud.. baru dijilat aja gue dah kayak gini..”
“Suruh Budi ngentotin elu, Rik… Pelan-pelan yah Bud.. Kemaren gue cukup sakit lho” Nova menghangatkan suasana.
“Iya Bud.. masukin dong buruan.”
“Yakin lu, Rik?” Aku bertanya kepada Rika tetapi tatapanku kembali ke Jenni. Jenni pun mengangguk kembali.
Aku pun segera membuka lebar selangkangan Rika. Vagina Rika terlihat sangat imut, karena memang Rika orangnya cukup kecil.
Tinggi badannya hanya di bawah bahuku sedikit.
Perlahan-lahan aku dorong tititku ke dalam vagina Rika. Rika yang sudah sangat basah hanya bisa mendesah.
Kepala tititku sudah masuk sepenuhnya tetapi seperti ketemu tembok.
“Siap Rika? Ini dah di depan selaput dara nih. Tinggal gue sodok masuk”
Entah kenapa sekali lagi aku melirik ke Jenni dan Jenni pun tersenyum kembali. Senyum yang sangat manis.
“Iya Bud.. sodok aja.. perkosa gue.. bikin gue hamil.. gue mau anak dari lu.” Rika sudah lupa daratan.
Kupegang pinggul Rika dengan erat dan kudorong dengan penuh kekuatan. Blesss.. masuk sudah.
Rika menitikkan air mata menahan sakit.
“Lanjut Rik?”
“Iya Bud. Dah mulai terbiasa nih. Rasanya penuh banget vagina gue”
Proses menyetubuhi Rika pun segera berlangsung. Keluar.. masuk…keluar…masuk..pelan-pelan tetapi pasti vagina Rika semakin basah.
“Gila….Enak..banget….Tahu gini… dari kemaren… gue…ikutan…nginep….”Rika semakin larut dalam kenikmatan.
“Ohh…ooohh…enak… aahh.. terus.. Bud.. yang cepat.. Bud!”
Kuturuti kemauannya. Semakin cepat aku menggoyang Rika, payudaranya pun semakin liar tergoncang-goncang.
“Bareng yah Rika.. gue juga dah mau nyemprot..”
“Ayo Bud.. bikin gue hamil.. semprot yang banyak…AAARRRHHHH”
Kami berdua pun orgasme luar biasa. Vagina Rika memeras semua sperma yang ada di tititku.
Kucabut tititku dan terlihat tetesan darah perawan merembesi sprei.
Noda darah perawan Rika dan Nova terlihat bersebelahan. Wah aku harus membeli sprei ini dari hotel. Kenang-kenangan pikirku.
Jenni menghampiriku dan menciumku di bibir dengan ciuman yang sangat lembut.
Tiba-tiba ada perasaan bersalah di hatiku. Sepertinya Jenni tahu karena dia bilang,
“Tidak apa-apa Bud. Kita semua memang ingin menikmati titit lu.”
dan kemudian dia menciumku lagi. Ciuman yang penuh mesra.
Nova mengganggu ciuman kami dengan mengambil tititku dan menghisapnya. Jenni mengganguk kembali dan merebahkan tubuhku.
Nova terus menikmati permainannya di bawah. Jenni menduduki kepalaku dan memberikan vaginanya untuk kuhisap. Ah.. nikmatnya memek Jenni.
Kujilat dan kujilat terus sambil kami terus bertatapan mata. Aku benar-benar jatuh cinta.
Pagi itu aku digilir tiga perempuan cantik. Jenni tetap hanya meminta digesek-gesek saja. Nova dan Rika berhasil membuatku menyemprotkan
sperma di dalam mereka sebanyak dua kali. Kami baru selesai ketika kami sudah kelelahan dan kelaparan. Sudah waktunya makan siang.
Epilog:
Kami berempat berhasil masuk universitas di kota B dan sepakat untuk mengontrak rumah untuk tinggal bersama.
Orang tua kami tidak ada yang curiga. Mereka pun setuju mengontrak rumah lebih enak daripada kos-kosan.
Bisa masak dan cuci baju sendiri. Tidak takut ada barang yang hilang.
Empat tahun kuliah, sehari pasti minimal sekali aku menyetubuhi salah satu dari tiga wanita cantik tersebut.
Dengan Jenni, selalu hanya gesek-gesek. Dengan Rika dan Nova, tentunya celup-celup dong.
Tidak ada yang hamil karena kami menghitung kalendar dengan sangat disiplin.
Sesudah lulus pun kami masih sering berkumpul untuk “bermain”.
Nova bertemu dengan suaminya di tempat kerja.
Rika bertemu dengan suaminya di kuliah S2.
Jenni akhirnya menjadi isteriku. Perawannya baru diberikan pas malam pernikahan.
Kami berdua punya dua orang anak.

Jenni sering mengundang Nova dan Rika untuk bermalam di rumah kami.
Saking seringnya, aku berhasil menghamili Nova dan Rika.
Anak kedua Nova dan anak ketiga Rika mirip sekali denganku.
Untung suami mereka tidak pernah ada yang curiga. Alasannya karena sering bergaul denganku, jadi mirip deh anaknya.

Artis yang di tunggu ketika bulan puasa